Komplikasi terpenting
yang timbul pada hemofilia A dan B
| A. |
Timbulnya inhibitor. Suatu inhibitor terjadi jika sistem
kekebalan tubuh melihat konsentrat faktor VIII atau faktor
IX sebagai benda asing dan menghancurkannya. |
| B.. |
Kerusakan sendi akibat perdarahan berulang. |
| C. |
Infeksi yang ditularkan oleh darah seperti HIV, hepatitis
B dan hepatitis C yang ditularkan melalui konsentrat faktor
pada waktu sebelumnya. |
A. INHIBITOR
Apa itu inhibitor ?
Inhibitor adalah cara tubuh untuk melawan apa yang
dilihatnya sebagai benda asing yang masuk . Hal ini berarti segera
setelah konsentrat faktor diberikan tubuh akan melawan dan akan
menghilangkannya.
Hal ini mirip dengan apa yang terjadi jika seseorang
menerima organ yang dicangkok. Sistem kekebalan tubuh melihat organ
sebagai benda asing dan tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Orang
yang menerima organ cangkok perlu mendapat obat untuk menghentikan
terjadinya hal ini.
Pada penderita hemofilia dengan inhibitor terhadap
konsentrat faktor, reaksi penolaksan mulai terjadi segera setelah
darah diinfuskaan. Ini berarti konsentrat faktor dihancurkan sebelum
ia dapat menghentikan pedarahan.
Ini merupakan komplikasi hemofilia yang serius,
karena konsentrat faktor tidak lagi efektif. Pengobatan untuk perdarahan
tidak berhasil. Penderita hemofilia dengan inhibitor mempunyai
risiko untuk menjadi cacat akibat perdarahan dalam sendi dan mereka
dapat meninggal akibat perdarahan dalam yang berat.
Apakah inhibitor sering dijumpai ?
Inhibitor dapat mengenai 1 diantara 5 penderita
hemofilia A berat pada suatu ketika dalam hidupnya. Kebanyakan
inhibitor timbul ketika anak masih sangat muda yaitu segera setelah
menerima infus konsentrat Faktor VIII yang pertama. Pada beberapa
orang inhibitor timbul belakangan.
Inhibitor juga dapat timbul pada 1 diantara 15 penderita hemofilia
A ringan atau sedang. Inhibitor ini sering kali muncul pada usia
dewasa. Mereka tidak hanya menghancurkan konsentrat faktor VIII
yang diinfus, tetapi juga menghancurkan faktor VIII itu sendiri.
Sebagai akibatnya penderita hemofilia ringan dan sedang akan berubah
menjadi berat. Untunglah, pada sekitar 60% dari penderita hemofilia
ini, inhibitor menghilang sendiri rata-rata dalam kurun waktu 9
bulan. Dan 40% sisanya, inhibitor tetap ada dan menjadi masalah
yang besar.
Pada hemofilia B, inhibitor jauh lebih jarang, kira-kira 1 diantara
100 penderita. Pada kebanyakan kasus inhibitor ini muncul setelah
infus konsentrat F IX pertama. Sayangnya, inhibitor pada orang
dengan hemofilia B dapat menjadi sangat berat karena dapat disertai
reaksi alergi.
Apakah inhibitor selalu sama ?
Tidak, beratnya berbeda. Beberapa orang termasuk "perespon
rendah". Ini berarti inhibitor terdapat dalam titer rendah
dan bekerja lebih lambat untuk menghilangkan konsentrat faktor
yang diinfus.
Yang lain disebut "perespon tinggi". Inhibitornya terdapat
dalam kadar tinggi dan bekerja sangat cepat dalam menghilangkan
konsentrat faktor yang diinfus. Akibatnya konsentrat faktor cepat
dinetralkan.
Inhibitor dapat bervariasi pada orang yang sama. Pada waktu tertentu,
inhibitornya dapat sangat aktif, pada waktu lain hampir menghilang.
Mengapa timbul inhibtor?
Dokter tidak tahu secara pasti mengapa inhibitor timbul pada orang
tertentu sedang orang lain tidak. Mereka memikirkan 2 kemungkinan
penyebab.
| - |
Kemungkinan penyebab pertama adalah lingkungan. Hal ini
sifatnya diluar penderita hemofilia. Dokter memikirkan sesuatu
dalam konsentrat faktor memicu sistem kekebalan tubuh untuk
bereaksi. Dengan alasan ini, banyak dokter yang mengobati hemofilia
lebih suka untuk tidak mengganti merk konsentrat. Jika suatu
produk bekerja baik, dokter tidak mau menganjurkan untuk ganti
merk kecuali ada alasan yang sangat kuat. |
| |
|
| - |
Kemungkinan kedua adalah genetik. Beberapa penderita hemofilia
dengan mutasi gen faktor VIII tertentu mungkin cenderung membentuk
inhibitor. Ini menerangkan mengapa pembentukan inhibitor seringkali
terdapat dalam 1 keluarga. Anggota keluarga, tentu saja mempunyai
mutasi gen yang sama. Pembentukan inhibitor oleh penyebab genetik
juga mungkin terjadi pada hemofilia B. |
Inhibitor terhadap Faktor VIII juga dapat muncul pada orang yang
tidak mewarisi hemofilia secara genetik. Ini disebut hemofilia
didapat ( Acquired Hemophilia), karena ia muncul setelah
dilahirkan kadang bahkan pada usia tua.
Apa itu Hemofilia yang didapat ( Acquired
Hemophilia) ?
Orang dengan Hemofilia didapat membentuk antibodi
terhadap Faktor VIII normal dalam tubuhnya sendiri. Namun hal ini
sangat jarang. Ini terjadi kira-kira 1 dalam 1 juta orang per tahun.
Ini juga dapat terjadi :
| - |
Setelah kehamilan |
| - |
Setelah operasi |
| - |
Setelah kecelakan |
| - |
Setelah menderita kanker |
| - |
Setelah minum antibiotika tertentu atau |
| - |
tanpa alasan yang jelas |
Untunglah, antibodi atau inhibitor, pada banyak kasus dapat diatasi
dengan pengobatan medis. Darah orang tersebut mampu untuk membeku
lagi.
Apa yang dapat diperbuat agar bisa bebas dari
inhibitor pada hemofilia A?
Dokter telah mempunyai pengalaman 25 tahun dalam membebaskan penderita
hemofilia A dari inhibitor. Pengobatannya disebut Immune Tolerance
Therapy (ITT). Tujuannya adalah membuat sistem kekebalan tubuh
menjadi terbiasa dengan infus Faktor VIII sehingga tidak lagi menolaknya.
Terdapat 3 cara ITT berbeda yang telah berhasil. Semua terapi
meliputi :
| - |
Dosis tinggi Faktor VIII untuk jangka waktu lama |
| - |
Pemakaian produk darah lain atau obat untuk melemahkan respon
kekebalan tubuh. |
Pengobatan ini berlangsung dalam kurun waktu 1 sampai 24 bulan.
Cara ini berhasil pada 3 dari 4 penderita hemofilia berat.
"Perespon rendah" (orang dengan inhibitor kadar rendah)
mempunyai lebih banyak kesempatan berhasil dengan ITT dari pada
perespon tinggi (orang dengan inhibitor kadar tinggi).
Apa yang dapat diperbuat untuk bebas dari inhibitor
pada hemofilia B?
Dokter mempunyai lebih sedikit pengalaman dengan
ITT pada hemofilia B. Ini karena jumlah penderita hemofilia B dengan
inhibitor sangat jarang terjadi.
Sayangnya, ITT tampaknya kurang berhasil pada hemofilia B. Apa
lagi banyak penderita hemofilia B dengan inhibitor mengalami reaksi
alergi berat dengan infus faktor IX secara terus menerus. Ini dapat
membuat ITT menjadi terapi yang berbahaya.
Pengobatan apa yang tersedia untuk hemofilia
dengan inhibitor ?
Beberapa penderita hemofilia tidak tertolong dengan Immune
Tolerance Therapy. Mereka tetap mempunyai inhibitor kadar
tinggi yang akan menghilangkan konsentrat Factor VIII dan IX
melalui infus. Mereka memerlukan jenis terapi lain yang tidak
bertujuan untuk menghilangkan inhibitor, tetapi ditujukan untuk
menghentikan perdarahan.
Penderita hemofilia A berat dapat menerima:
| - |
activated prothrombin complex concentrate (disebut
FEIBAVH) |
| - |
porcine Factor VIII, terbuat dari darah babi (disebut Hyate:C) |
| - |
Faktor VIIa rekombinan (disebut Niastase®) |
Penderita hemofilia A sedang dan ringan dapat
menerima:
- porcine Factor VIII
- desmopressin
- Faktor VII rekombinan
Penderita hemofilia B dapat menerima:
- Faktor VII rekombinan
B. KERUSAKAN SENDI
Kerusakan sendi adalah kerusakan yang disebabkan oleh perdarahan
berulang di dalam dan di sekitar rongga sendi. Kerusakan yang menetap
dapat disebabkan oleh satu kali perdarahan yang berat (hemarthrosis).
Namun secara normal, kerusakan merupakan akibat dari perdarahan
berulang ulang pada sendi yang sama selama beberapa tahun. Makin
sering perdarahan dan makin banyak perdarahan makin besar kerusakan.
Dokter menyebut kerusakan sendi pada hemofilia sebagai "artropati
hemofilia".
Bagaimana kerusakan sendi terjadi ?
Kerusakan sendi pada hemofilia mirip dengan
kerusakan sendi pada orang normal dengan radang sendi atau artritis.
Ini terjadi pada 2 tempat yaitu pada sinovium dan rawan
sendi.
Sinovium adalah lapisan tipis di bagian dalam sendi yang
mempunyai 3 fungsi :
| - |
untuk melumasi sendi |
| - |
memberi makan rawan sendi dan |
| - |
untuk menyingkirkan cairan dan kotoran dari sendi |
Terdapat banyak pembuluh darah dalam sinovium. Ini merupakan
satu alasan mengapa sendi sering mengalami perdarahan pada hemofilia.
Jika terjadi perdarahan dalam sendi, sinovium menyerap
darah untuk menyingkirkannya. Zat besi dalam darah akan tertimbun
pada sinovium. Dokter menganggap zat besi dapat menyebabkan sinovium menjadi
tebal. Sinovium yang tebal ini mengandung lebih banyak pembuluh
darah sehingga lebih mudah berdarah.
Terdapat 2 jenis rawan sendi, yang paling penting adalah pembentuk
tutup yang licin dan keras pada ujung tulang sendi. Ini memungkinkan
tulang untuk saling bersinggungan tanpa gesekan. Rawan sendi ini
mendapat makanan dari enzim dari sinovium yang bengkak.
Jenis rawan sendi yang lain adalah seperti peredam kejut, hanya
terdapat pada lutut, dan sering trauma waktu olah raga. Yang ini
tidak begitu penting pada kerusakan sendi pada hemofilia.
Dengan cara ini, perdarahan pada sendi merupakan lingkaran setan.
Jika sendi rusak, perdarahan lebih sering terjadi. Kerusakan akan
makin buruk. Seperti kerusakan sendi, sering terjadi pengerutan
jaringan lunak, tendo, dan ligamen sekitar sendi
sehingga kemampuan gerak sendi sebagian hilang.(Bandingkan sendi
normal dengan sendi artritis pada gambar 1)

Gambar 1
Berapa seringnya terjadi artropati hemofilia
?
Hampir semua penderita hemofilia yang berusia lanjut menderita artropati pada
satu atau beberapa sendi.Atropati sering terjadi pada lutut,
pergelangan kaki dan siku. Makin lanjut usia penderita hemofilia,
makin besar kemungkinannya untuk menderita artropati multipel yang
berat. Karena pada masa kanak - kanak pengobatan hemofilia belum
maju sehingga terjadi kerusakan sendi.
Untunglah, banyak anak anak sekarang dapat tumbuh dengan sendi
yang mendekati normal. Penggunaan terapi profilaksis (terapi
pengganti faktor beberapa kali seminggu untuk mencegah perdarahan)
telah memperbaiki kesempatannya untuk mencapai usia dewasa tanpa artropati.
Penderita hemofilia ringan dan sedang lebih jarang mendapat perdarahan
sendi dari pada hemofilia berat, sehingga mereka lebih jarang mendapat artropati hemofilia.
Namun seperti dinyatakan di atas, kerusakan sendi dapat dimulai
juga dari satu kali perdarahan berat. Oleh karena itu, tetap penting
untuk mencegah kerusakan sendi akibat perdarahan pada hemofilia
ringan dan sedang.
Sendi yang mana yang paling sering rusak akibat
perdarahan ?
Sendi yang paling sering rusak adalah sendi
engsel seperti :
| - |
lutut |
| - |
pergelangan kaki |
| - |
siku |
Sendi engsel ini hanya mempunyai sedikit perlindungan
terhadap tekanan dari samping. Akibatnya sering terjadi perdarahan.
Sendi peluru yang mempunyai penunjang lebih baik, jarang terjadi
perdarahan seperti :
Sendi pada pergelangan tangan, tangan dan kaki kadang - kadang
mengalami perdarahan. Namun jarang menimbulkan kerusakan sendi.
Bagaimana kerusakan sendi mempengaruhi aktivitas
sehari - hari penderita hemofilia ?
Kerusakan sendi dapat mempengaruhi aktivitas
sehari hari melalui beberapa cara. Pada umumnya kerusakan sendi
akan menimbulkan :
| - |
perdarahan berulang pada sendi yang sama |
| - |
kemampuan gerak sendi menjadi terbatas (sendi tak dapat dibuka
atau ditutup maksimal) |
| - |
hilangnya kekuatan otot sekitar sendi |
| - |
sendi terasa nyeri jika dipakai |
| - |
bahkan nyeri terasa jika sendi dalam keadaan istirahat |
Jika kerusakan terjadi pada lutut atau pergelangan
kaki dan tergantung beratnya, seorang penderita hemofilia berkemungkinan
:
| - |
tak dapat mengendarai sepeda, lari atau menari |
| - |
tak dapat berjalan tanpa nyeri |
| - |
tak dapat membawa barang berat |
| - |
sendi terasa nyeri jika dipakai |
| - |
tak dapat berlutut |
| - |
mendapat masalah pada saat naik terutama turun tangga |
| - |
mengalami kesulitan untuk masuk dan keluar dari mobil |
| - |
memerlukan tongkat atau penyangga |
| - |
memerlukan kursi roda untuk bergerak |
Jika kerusakan terjadi pada siku, tergantung
beratnya maka penderita hemofilia berkemungkinan :
| - |
tak dapat membawa beban berat |
| - |
tidak dapat mengancingkan baju atau memasang dasi |
| - |
sulit untuk bercukur atau makan |
| - |
nyeri bila menulis |
Bagaimana kerusakan sendi dapat dicegah ?
Lebih mudah untuk mencegah dari pada memperbaiki kerusakan sendi.
Faktanya, sekali sendi rusak, dokter mungkin dapat memperlambat
atau mencegah bertambah rusaknya sendi tetapi tak dapat membuat
sendi seperti baru.
Satu satunya cara untuk mencegah kerusakan sendi adalah mencegah
perdarahan ke dalam sendi. Ini dapat dilakukan dengan terapi pengganti.
(Lihat pengobatan hemofilia)
Jika terjadi perdarahan, mereka memerlukan pengobatan segera dengan
konsentrat faktor. Hal ini akan menghentikan perdarahan dan membatasi
jumlah darah dalam sendi.
Hal lain yang juga dapat dilakukan untuk membatasi akibat dari
perdarahan yang menetap adalah :
| - |
istirahat (membiarkan perdarahan berhenti) |
| - |
angkat anggota gerak (untuk menurunkan tekanan darah dan
memungkinkan darah untuk mengalir keluar) |
| - |
fisioterapi aktif ( agar sendi dapat bergerak lagi
dan menghindari pembentukan jaringan ikat dalam sendi) |
| - |
rangsangan listrik pada otot sekitar sendi (untuk menghindari
otot mengecil karena tak terpakai ketika sendi menyembuh) |
| - |
obat anti radang non steroid (untuk mengurangi pembengkakan) |
Jika seorang hemofilia sering mengalami perdarahan
pada sendi yang sama, maka dimungkinkan untuk mengadakan terapi profilaksisdalam
jangka waktu 3 sampai 6 bulan. Tujuannya adalah untuk memutuskan
lingkaran setan perdarahan dan memungkinkan sinovia kembali
normal. Jika ini tidak berhasil, mungkin perlu pengobatan lain.
Apa yang dapat diperbuat untuk mengobati sendi
yang rusak?
Pengobatan untuk kerusakan sendi disebut sinovectomi. Ini
adalah pengangkatan sinovium. Tujuan utamanya adalah mengurangi
lama perdarahan dan memutuskan lingkaran setan perdarahan dan kerusakan
sendi. Setelah diangkat, sinovium tumbuh lagi tetapi tidak
setebal dan sepenuh dengan pembuluh darah seperti sebelumnya.
Ada 3 cara sinovektomi:
| - |
operasi |
| - |
radioaktif dan |
| - |
kimiawi |
Pada operasi sinovektomi,penggangkatan sinovium dilakukan
dengan cara bedah.
Jika kerusakan sendi tidak terlalu berat, prosedur yang dipakai
adalah arthroscopic synovectomy, atau sinovektomi "tertutup".
Dokter mengangkat sinovium melalui tabung logam, tanpa membuka
sendi. Keuntungan cara ini pasien segera dapat mulai menggerakkan
sendi. Hal ini membuat masa penyembuhan lebih pendek.
Jika kerusakan sendi lebih buruk, dan rawan serta tulang kasar
dan bergerigi, sinovektomi terbuka dapat dikerjakan. Sendi
dibuka, sinovium diangkat, dan tonjolan rawan yang kasar
dihaluskan. Namun penyembuhan perlu waktu lebih lama, cara ini
tidak dapat dikerjakan pada siku.
Jenis kedua adalah sinovektomi radioaktif. Bahan kimia
radioaktif diinjeksikan ke dalam sinovium. Sinovium yang
bengkak perlahan lahan mati dan diganti dengan yang sehat. Keuntungan
cara ini adalah tak ada tindakan bedah. Kerugiannya karena bahan
radioaktif maka ada sedikit risiko kanker. Dengan alasan ini sinovektomi
radioaktif tidak dilakukan pada anak - anak.
Jenis ketiga adalah sinovektomi yang dapat dikerjakan dengan
injeksi bahan kimia seperti rifampisin. Ini telah terbukti
lebih bermanfaat untuk sendi pergelangan kaki dan siku.
Dari cara cara ini tak ada yang dapat membuat sendi seperti baru
dan juga tidak dapat memperbaiki pergerakan sendi yang telah hilang.
Namun terdapat beberapa keuntungan utama antara lain :
| - |
nyeri berkurang |
| - |
sendi lebih fungsional (berjalan lebih mudah) |
| - |
jumlah perdarahan berkurang |
| - |
kerusakan sendi berhenti atau diperlambat. |
C. INFEKSI YANG DITULARKAN OLEH DARAH
Dalam 20 tahu terakhir, komplikasi hemofilia
yang paling serius adalah infeksi yang ditularkan oleh darah. Di
seluruh dunia banyak penderita hemofilia yang tertular HIV, hepatitis
B dan hepatitis C. Mereka terkena infeksi ini dari plasma, cryopresipitat dan
khususnya dari konsentrat factor yang dianggap akan membuat hidup
mereka normal.
|