Hemofilia merupakan suatu penyakit gangguan mekanisme pembekuan darah yang
diturunkan secara genetic melalui kromosom seks. Meskipun hemofilia merupakan
penyakit kelainan pembekuan darah tetapi manifestasi klinisnya terbanyak pada
system muskuloskeletal.
Penyakit ini sudah ada sejak 200 M melalui tulisan Talmudic.
Manifestasi klinis bisa ditemukan pada usia bayi pada jenis yang berat, tetapi
umumnya gejala klinis dimulai pada usia kanak kanak dimana bila tidak
diobati secara teratur maka pada periode maturitas skeletal akan ditemukan
kerusakan sendi yang berat.
Proses dari pengobatan hemofilia mengalami kemajuan yang pesat setelah perang
dunia ke II sejalan dengan kemajuan dalam pemberian darah dan plasma dimana
teknik dari pemisahan fraksi plasma dan presesvasi dari zat zat tersebut
memungkinkan kita untuk memberikan pengobatan yang terbaik bagi penderita.
Insiden
Hemofilia merupakan penyakit yang relatif jarang ditemui, diperkirakan insiden
penyakit ini adalah 3-4 orang per 100.000 penduduk. Di Amerika Serikat dan
Inggris insiden penyakit ini adalah 8 10 per 100.000 kelahiran bayi
laki laki.
Walaupun demukian diperkirakan banyak penderita dengan hemofilia tipe ringan
yang tak terdeteksi karena penderita tersebut tidak pernah mengalami cedera
yang serius.
Jenis Hemofilia
Hemofilia dapat di bagi atas
- Hemofilia A (Clasic Hemophilia) yang merupakan kelainan congenital defisiensi
faktor VIII (anti hemophiliacfactor / anti hemophiliacglobilin. Tipe A ini
±80% dari seluruh kasus hemofilia.
- Hemofilia B (Chritsmas disease) merupakan kelainan congenital defisien faktor
IX (plasma thrombhoplastin component).
PROBLEM DALAM SISTEM MUSKULOSKELETAL
Perdarahan yang tak terkontrol dan berulang merupakan suatu gejala klinis
dari hemofilia. Perdarahan dapat terjadi dimana saja tetapi yang paling sering
adalah pada sendi dan jaringan lunak atau otot.
Berat dan ringan gejala klinis sangat tergantung dari presentase kadar faktor
pembekuan dalam darah.
Biggs & Mac Farlane membuat korelasi antara presentasi faktor pembekuan
dengan gejala klinis sebagai berikut :
| Level kadar dalam darah (faktor VIII) |
Klinis |
| 25 50% |
Tendensi perdarahan berlebihan setelah trauma yang hebat. |
| 5 25% |
Perdarahan hebat setelah cedera ringan atau saat pembedahan |
| 1 5% |
Perdarahan yang luas setelah cedera atau hemarthrosis dan perdarahan
spontan |
| 0 1% |
Hemofilia berat, hemarthrosis dan kaku sendi, perdarahan dalam jaringan
lunak |
I. ARTRHOPATI HEMOPHILIA
Sendi untuk bertumpu adalah sendi yang paling sering terkena, dengan urutan
kekerapan sebagai berikut :
- Sendi lutut
- Sendi siku
- Sendi bahu
- Sendi pergelangan kaki
- Sendi pergelangan tangan
- Sendi panggul
Sedangkan vertebra (tulang belakang) sangat jarang terkena. Hemorthrosis serta
perdarahan yang berulang, kemudian akan menimbulkan reaksi pada sendi yang
dikenal dengan synovitis. Bila synovitis menjadi kronis akan menimbulkan degenerasi
pada tulang rawan dan beakhir dengan kerusakan sendi.
Patofisiologis :
Pada saat cedera terjadi robekan pada pembuluh darah synivium dan darah akan
terakumulasi dalam sendi. Perdarahan akan terus berlangsung sampai tekanan
hidrostatik intra artikuler melebihi tekanan arteri dan kapiler dalam sinovium
sendi. Sebagai akibat efek tampnade ini akan menyebabkan iskhemi pada synovium
dan tulang sub khondral.
Dengan perdarahan berulang terjadi hiperplasi dan fibrosis dari jaringan synovial.
Proliverasi jaringan synovial akan membentuk Pannus dan Pannus ini akan mengikis
tulang rawan sendi daerah perifer dan menutupi serta menekan permukaan tulang
rawan di daerah tengah.
Tulang rawan sendi juga akan rusak akibat enzim proteolitik yang dihasilkan
jaringan synovial yang mengalami inflamasi diatas akan merusakkan tulang rawan
sendi disamping itu juga akan terjadi pembatasan ruang lingkup sendi dan kontaktur
sendi akibat fibrosis kapsul dan synovial sendi. Iskhemi lokal juga akan menyebabkan
terbentuknya kista sub khindral tulang.
Reaksi inflamasi juga menyebabkan peningkatan sirkulasi darah sehingga memacu
pertumbuhan panjang tulang.
Stimulasi pada pertumbuhan tulang ini bisa menimbulkan :
- Pertumbuhan yang asimetri sehingga menghasilkan deformitas varus atau valgus
- Penutupan dini pertumbuhan tulang sehingga menghasilkan perpendekan tungkai
Gejala Klinis
Tergantung dari berat ringannya perdarahan dan saat terjadinya (akut, sub
akut dan khronis)
Pada yang akut biasanya dijumpai nyeri dan bengkak disertai distensi dari kapsul
sendi. Kulit diatas sendi nampak terenggang dan lebih berkilat.
Pada perabaan umumnya hangat dan nyeri serta keterbatasan dari ruang lingkup
sendi. Sub akut haemorthrosis timbul setelah beberapa kali episode perdarahan
dalam sendi, nyeri minimal dan jaringan synovium sudah menebal serta terdapat
kekakuan sendi.
Haemorthrosis khronik terbentuk setelah 6 bulan terjadinya perdarahan sendi
yang berulang ulang. Persendian menjadi sangat kaku, fibrosis dan sendi
mengalami kehancuran.
Gambaran Radiologis
Gambaran radiologis dari sendi hemofilia dapat ditemukan bermacam macam
kelainan, mulai dari pembengkakan jaringan lunak, osteoporosis pada tulang,
pemebesaran epifisis, kista subkhondral, penyempitan selah sendi dan pembentukan
oteofit.
Arnold dan Hilgartner membagi kelainan arthropati hemofilia atas 5 tingkatan
:
| Tingkat / Stage |
Gambaran Xray |
| I |
Pembengkakan jaringan lunak tulang & sendi masih normal |
| II |
Overgrowth & osteoporosis dari epifisis, sendi masih baik |
III
|
Celah sendi mulai menyempit, kista sub khondral
Patella berbentuk segi empat
Pelebaran intercondiler notch dari lutut dan trochlea notch dari siku |
| IV |
Celah sendi sangat sempit dengan kerusakan rawan sendi |
| V |
Celah sendi hilang, rawan sendi sangat tidak rata, epifisis irreguler
dan overgrowth |
Pengobatan
Medikal
| - |
Profilaksis faktor replacement |
| - |
NSAID |
| - |
Steroid |
| - |
Aspirasi |
| - |
Immobilisasi |
| - |
Physiotherapi |
Pembedahan
| |
- |
Artroskopi Synovectomy |
| |
- |
Synoviorthesis synovectomy (kimiawi atau radioaktif) |
| |
- |
Open synovectomy |
| - |
Penggantian sendi (Total Joint Replacement) |
Profilaksis
Pemberian faktor pembekuan (VIII ata IX) sebagai terapi replacement sangat
dibutuhkan penderita hemofilia untuk mempertahankan level yang aman dari perdarahan
yang tidak terkontrol.
Pemberian profilaksis jangka panjang akan memberikan hasil akhir yang baik
dalam mempertahankan fungsi persendian.
Tujuan profilaksis jangka panjang adalah :
- Mengkontrol / mencegah haemorthrosis berulang
- Mempertahankan fungsi ruang lingkup sendi
- Mencegah atrof otot
Synovitis hemofilia yang dini harus diobati secara agresif dengan faktor pembekuan
dan aktif fisioterapi.
Bila synovis menjadi khronis akan terjadi kontaktur fleksi dari sendi dan berakhir
dengan arthropaty haemophilia.
II. PERDARAHAN PADA JARINGAN LUNAK
Perdarahan pada jaringan lunak dapat terjadi superficial yaitu pada jaringan
subkutis atau perdarahan dalam yaitu perdarahan pada otot (intramuskular) atau
diantara oto (intermuskular).
Pada ekstremitas atas perdarahan dalam sering terjadi di otot deltoitm, pergelangan
tangan dan lengan bawah; sedangkan pada ekstremitas bawah perdarahan sering
terjadi pada M. Quadriceps, Triceps Surae dan kompartemen anterior tungkai.
Gejala yang sering ditemukan adalah kekakuan atau kelemahan pada oto tersebut
disertai terbatasnya pergerakkan sendi didekatnya.
Pada perdarahan di otot iliopsoas kadang kadang menimbulkan gejala
yang mirip dengan appendicitis akura atau kolik ginjal.
Sebagai akibat dari perdarahan oto ini akan menyebabkan iskhemi dan fibrosis
dari otot dan akan mengakibatkan kontaktur dari oto yang bersangkutan.
Pengobatan
- Pemberian faktor pengganti (faktor VIII atau IX)
- Splinting daerah yang terkena pada posisi yang netral. Bila nyeri & bengkak
berkurang segera dimulai latihan aktif menggerakkan persendian.
Pseudo Tumor Hemofilia
Pseudotumor hemofilia merupakan kista yang terbentuk secara cepat pada system
muskuloskeletal akibat perdarahan yang tak terkontrol; biasanya terjadi pada
hemofilia yang berat dengan angka angka kejadian 1-2% dari kasus
tersebut.
Valderamma & Mathews (1965) membagi kista ini atas 3 jenis. Jenis yang
pertama merupakan kista yang sederhana yang terbentuk pada pembungkus fasia
otot, jenis kdua kista yang terdapat didalam oto dan melekat ke periosteum
tulang dan mengakibatkan menipisnya tulang. Pada jenis yang ketiga pseudotumor
terbentuk akibat perdarahan subperiosteal dan menimbulkan kerusakkan pada tulang
sehingga timbul fraktur patologis dalam waktu yang singkat.
PENUTUP
Penderita hemofilia dapat hidup normal layaknya manusia yang lain dan problem
orthopaedic dapat diminimalkan dengan pemberian faktor replacement secara
berkesinambungan.
Tentunya diperlukan kerjasama yang baik antara Spesialis Orthopaedi, haemotologis
dan ahli Rehabilitasi medik untuk mencapai hasil yang maksimal.
Daftar Pustaka
| 1. |
Tachdjian MO. Pediatric Orthopaedics; 2nd ed.Philadelphia WB Saunders,
1990; 1494 1507 |
| 2. |
Niemann KMW. Diseases Related to The Hemotopoietic System. In : Lovell
WW, Winter RB, Eds. Pediatric Orthopaedics; 2nd ed. Philadelphia : J.B.
Lippincott, 1986; 195 211 |
| 3. |
Rodriguez Merchan EC : Effect of Hemophilia on Articulations of Children
and Adults. Clin. Orthop. 328 : 7 13; 1996 |
| 4. |
Rodriguez Merchan EC : Pathogenesis, Early Diagnosis and Prophylaxis
for Chronic Hemophilic Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 6 11; 1997 |
| 5. |
Ribbans WJ, Giangrande P, Beeton K : conservative Treatment of Hemarthrosis
for Prevention of Hemophilic Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 12 18;
1997 |
| 6. |
Arnold, WD, Hilgartner MW : Hemophilia Arthropathy. Current Concepts
of Pathogenesis and Management. J. Bone Joint Surg. 59A: 287-305, 1977 |
| 7. |
Gilbert MS, Radomisli TE : Therapentative Options in The Management
of Hemophilic Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 88-92; 1977 |
| 8. |
Wiedel JD : Arthroscopic Synovectomy of The Knee in Hemophila. Clin.
Orthop. 328: 46-53;1996 |
| 9. |
Carviglia HA, Palazzi FF, Maffei E : Chemical Synoviorthesis for Hemophilic
Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 30-35;1997 |
| 10. |
Palazzi FF, Rivas S, Cibeira JL : Radioactive Synoviorthesis in Hemophilic
Hemarthrosis. Clin.Orthop. 328:14 18;1996 |
|