Pendahuluan
Dewasa ini terjadi peningkatan pesat kasus infeksi HIV di Indonesia. Sejak
kasus HIV ditemukan pertama kali tahun 1987 hingga bulan Juni 2000 jumlah kasus
HIV/AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 1.028 kasus, tetapi hanya dalam jangka
waktu kurang dari 3 tahun sampai dengan Desember 2002 terapat 3.568 kasus HIV/AIDS
yang dilaporkan. Peningkatan ini terutama diakibatkan oleh meningkatnnya jumlah
kasus infeksi HIV dari kalangan pecandu narkotika.
Sementara itu kasus infeksi HIV akibat transfusi sampai data terakhir tersebut
adalah sebanyak 5 orang dimana 2 orang merupakan pasien hemofilia. Data dari
Pusat Hemofilia di RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa dari 530 pasien
yang terdaftar, 75,5 % positif terinfeksi Hepatitis C.
Infeksi HIV dan Transfusi Darah
Infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seksual, jarum suntik pada pemakai
narkotika, penularan dari ibu ke bayinya termasuk transfusi darah. Maka pasien
hemofilia mempunyai risiko tertular HIV oleh karena sering membutuhkan transfusi
faktor pembekuan darah untuk mengatasi perdarahan yang terjadi. Risiko penularan
seorang resipien yang mendapat darah yang positif HIV adalah sebesar 90 %.
Namun kini, Palang Merah Indonesia (PMI) telah melakukan uji saring terhadap
HIV berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 622/Menkes/SK/VII/1992 tetang
kewajiban pemeriksaan HIV pada darah yang disumbangkan donor. Prevalensi darah
donor yang pada uji saring terbukti positif HIV pada periode tahun 1999 – 2000
adalah sebesar 0,007%. Darah yang reaktif pada uji saring kemudian dikirimkan
ke RSCM untuk dilakukan tes konfirmasi dengan Western Blot.
Efektifitas uji saring ini sayangnya tidak 100%. Hal ini disebabkan karena
pertama, uji saring yang dilakukan merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya
antibodi HIV didalam darah. Padahal diketahui adanya masa jendela yaitu waktu
sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibody yang dapat dideteksi
dengan pemeriksaan, masa jendela ini lamanya 3 – 6 bulan. Jadi memang
ada kemungkinan bahwa seseorang yang sedang dalam masa jendela mendonorkan
darahnya. Kedua, walaupun metose uji saring yang ada sekarang telah mempunyai
spesifitas dan sensitivitas yang sangat baik, hampir mencapai 100%, kemungkinan
untuk terjadinya hasil negatif palsu tetap ada walaupun sangat kecil.
Saat ini di Amerika Serikat 1 dari 600.000 kantung darah telah terkontaminasi
virus HIV yang tidak bias di deteksi oleh uji saring. Sebagai pembanding 1
dari 60.000 kantung darah terkontaminasi oleh virus hepatitis B yang tidak
dideteksi melalui uji saring.
Dinegara-negara maju saat ini transfusi komponen darah dilakukan dengan menggunakan
produk yang telah mengalami proses pemanasan (pasteurisasi) sehingga virus
yang mungkin ada dapat diinaktivasi atau produk yang berasal dari kultur sel
dengan teknologi DNA rekombinan. Di Amerika Serikat sampai dengan tahun 1984
dilaporkan 714 kasus penularan HIV melalui transfusi darah. Setelah uji saring
dan metode pasteurisasi pada produk komponen darah dilakukan, hanya ada 3 kasus
pada periode 1985 – 1990.
Transfusi komponen pembekuan darah yang diberikan di negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia, umumnya adalah kriopresipitat, berasal dari pengolahan
darah beberapa orang donor darah. Cara ini efisiensi dari segi biaya dan dianggap
cukup aman dilakukan atas pertimbangan prevalensi HIV pada masyarakat umum
masih rendah dan sudah dilakukannya uji saring HIV pada semua darah donor.
Diagnosis dan Penatalaksaan Infeksi HIV/AIDS
Untuk menatalaksana infeksi HIV/AIDS dengan baik diperlukan pemahaman mengenai
perjalanan penyakit dan gambaran klinik pasien AIDS. Diagnosis AIDS yang lebih
dini bermanfaat buat pasien AIDS, masyarakat dan juga buat dokter. Keuntungan
diagnosis dini untuk pasien antara lain adalah dapat memperlambat masa tanpa
gejala, memperlambat kecepatan perjalanan penyakit, dan mencegah timbulnya
infeksi oportunistik. Sementara untuk masyarakat manfaatnya adalah menekan
jumlah penularan. Selain itu tim dokter akan mempunyai cukup waktu untu mempengaruhi
perjalanan penyakit dan memiliki kesempatan untuk memberikan konseling untuk
mencegah penularan. Untuk dapat menegakkan diagnosis dini, dokter perlu mengetahui
gambaran klinis AIDS yang amat bervariasi dan dipengaruhi oleh banyak factor,
termasuk factor geografis. Pola penyakit infeksi oportunistik di Indonesia
berbeda dengan pola di negara-negara barat.
Gejala
Dalam tubuh pasien AIDS/infeksi HIV, partikel virus bergabung dengan DNA sel
pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap
terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk
tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50 % berkembang menjadi penderita AIDS sesudah
10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan
gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan
gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubuh
yang juga bertahap.
Tabel 1. Daftar penyakit infeksi oportunistik untuk kriteria diagnosis AIDS
Infeksi Oportunistik
| 1. |
Pnemonia Pneumosistis Karini |
| 2. |
Toksoplasmosis otak |
| 3. |
Kriptosporidiosis dengan diare > 1 bulan |
| 4. |
Kriptokokosis di luar paru |
| 5. |
Penyakit virus sitomegalo pada organ tubuh, kecuali di limpa, hati atau
kelenjar getah bening |
| 6. |
Infeksi virus herpes simpleks di mukokutan lebih dari 1 bulan atau di
alat dalam (visceral) lamanya tidak dibatasi |
| 7. |
Leukoensefalopati multifokal progresif |
| 8. |
Mikosis (infeksi jamur) apa saja (misalnya histoplamosis, kokkidioidomikosis)
yang epidemik, menyerang banyak organ tubuh (disseminata) |
| 9. |
Kandidiasis esophagus, trakea, bronkus atau paru |
| 10. |
Mikobakteriosis atipik( mirip bakteri tbc), disseminata |
| 11. |
Septikemiasalmonella non tifoid |
| 12. |
Tuberkulosis di luar paru |
| 13. |
Limfoma |
| 14. |
Sarkoma kaposi |
| 15. |
Ensefalopati HIV, sesuai criteria CDC, yaitu gangguan kognitif atau disfungsi
motorik yang menggangu aktifitas sehari-hari, progresif sesudah beberapa
minggu atau beberapa bulan, tanpa dapat ditemukan penyebabnya selain HIV |
Gejala yang dialami pasien AIDS yang dirawat di Jakarta dan penyakit infeksi
oportunistiknya dapat dilihat di table 2 dan table 3, berdasarkan hasil penelitian
pasien AIDS yang dirawat di 6 rumah sakit di Jakarta.
Tabel 2. Kasus AIDS di Jakarta berdasarkan gejala
| Manifestasi klinik |
Jumlah
|
%
|
| Panas lama |
52
|
100
|
| Batuk |
47
|
90.3
|
| Penurunan berat badan |
42
|
80.7
|
| Sariawan + nyeri telan |
41
|
78.8
|
| Diare |
36
|
69.2
|
| Sesak nafas |
21
|
40.4
|
| Pembesaran kel. getah bening |
15
|
28.8
|
| Penurunan kesadaran |
9
|
17.3
|
| Gangguan penglihatan |
8
|
15.3
|
| Neuropati HIV |
2
|
3.8
|
| Ensefalopati HIV |
2
|
4.5
|
Infeksi oprtunistik yang sering dijumpai pada pasien AIDS di Jakarta, menurut
urutannya adalah kandidiasis mulut dan esophagus (80,8%), tuberculosis (46,1%),
infeksi virus sitomegalo, pneumonia rekurens, toksoplasmosis dan pneumonia
Pneumosistis Karinii.
Tabel 3. Sebaran pasien AIDS menurut jenis infeksi oportunistik
| Infeksi oportunistik |
Jumlah |
% |
| Kandidiasis mulut/esophagus |
42 |
80.8 |
| Tuberkulosis |
24 |
46.1 |
- |
paru |
12 |
|
|
ekstra paru |
2 |
|
|
paru + ekstra |
10 |
|
| Infeksi virus sitomegalo |
15
|
28.8
|
| Pneumonia rekurens |
14
|
26.9
|
| Ensefalitis Toksoplasma |
9
|
17.3
|
| Pneumonia Pneumosistis Karini |
7
|
13.4
|
| Virus herpes simpleks |
5
|
9.6
|
| Kriptosporidiosis |
1
|
2
|
| Histoplasmosis |
1
|
2
|
| Mikrobaterium avium kompleks |
1
|
2
|
Kombinasi beberapa penyakit infeksi sering ditemukan, termasuk kombinasi dengan
kanker Kaposi atau limfoma. Ditemukan 6 jenis penyakit sekaligus pada 3 pasien
AIDS, 5 penyakit pada 2 pasien, 4 penyakit pada 7 pasien, 3 jenis penyakit
pada 13 pasien dan 2 jenis penyaktit pada 16 pasien. Kanker Kaposi ditemukan
pada 5 pasien AIDS, sedangkan limfoma malignum non-Hodgkin pada seorang pasien.
Pengobatan
Banyak sekali kemajuan yang telah dicapai di bidang pengobatan HIV/AIDS. Untuk
diketahui, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) memerlukan berbagai jenis pengobatan,
yaitu antara lain obat yang menghancurkan virusnya (obat antiretroviral), obat
untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi yang menyertai penyakit AIDS, misalnya
jamur, kanker, toksoplasma dan makanan yang mempunyai nilai giz yang baik.
Selain nutrisi, odha juga memerlukan pengobatan pendukung lain seperti dukungan
psikososial, dukungan agama dan juga tidur yang cukup dan perlu menjaga kebersihan.
Tabel 4. Pengobatan Antiretroviral
A. Obat Penghambat Reverse Transcriptase Nukleosida
- Zidovudine, AZT (Retrovir, Avirzid, Adovi, Zidovex)
- Didanasine, ddl (Videx)
- Zalcitabine, ddC (Hivid)
- Stavudine, d4T (Zerit)
- Lamivudine, 3TC (Lamivox)
B. Obat Penghambat Reverse Transcriptase Non-Nukleosida
- Nevirapine (Nevirex, Viramune)
- Efavirenz (Sustiva)
C. Obat Penghambat Protease
- Indinavir (Crixivan)
- Saquinavir (Invirase)
- Ritonavir (Norvir)
- Nelfinavir (Viracept, Nelvex)
Penggunaan kombinasi obat-obat antiretroviral telah memberikan hasil yang
menggembirakan. Data selama 5 tahun terakhir menunjukkan bukti yang amat meyakinkan
bahwa pengobatan dengan kombinasi beberapa obat anti HIV bermanfaat menurunkan
morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV, bahkan sebagian odha sudah
tidak terdeteksi lagi virusnya di dalam darah Jenis obat antiretroviral dapat
dilihat pada table 4.
Masalahnya, penggunaan obat anti retroviral ini dapat dikatakan harus dilakukan
seumur hidup dan teratur. Oleh karena itu akses terhadap obat-obat antiretroviral
ini harus mudah dan terjangkau harganya. Saat ini Pokdisus AIDS FKUI/RSCM telah
berusa untuk mempermudah odha memperoleh obat antiretroviral dengan menyediakan
obat antiretroviral generik yang diimpor dari India dengan harga yang sangat
terjangkau.
Saat ini lebih dari 500 orang dengan HIV/AIDS (odha) di Indonesia yang mendapatkan
pengobatan kombinasi obat antiretroviral generic. Dari jumlah tersebut lebih
dari 150 odha yang viral load-nya tidak terdeteksi lagi. Artinya virus HIV
dalam bentuk bebas tidak lagi ditemukan dalam sirkulasi darahnya walaupun virus
HIV yang bergabung di dalam limfosit T-helper masih ada. Untuk diketahui HIV
dalam bentuk bebas itulah yang menyebabkan berbagai macam infeksi oportunistik,
seperti TBC, kanker, dsb. Kondisi kesehatan pasien yang mendapatkan ARV sangat
baik, dapat beraktivitas dan bekerja secara normal.
Penutup
Pasien hemofilia mempunyai risiko untuk tertular oleh virus HIV melalui transfusi
darah. Namun, saat ini risiko itu sangat minimal dikarenakan semakin majunya
teknologi pengolahan darah dan telah dilakukannya uji saring pada semua darah
donor.
Penatalaksanaan infeksi HIV/AIDS dewasa ini telah mencapai kemajuan yang menggembirakan.
Pemberian kombinasi obat antiretroviral telah terbukti secara signifikan dapat
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas orang dengan HIV/AIDS.
|