Beranda
 Apa Itu Hemofilia ?
 Agenda Kegiatan
 Liputan Kegiatan
 Artikel
 Hubungi Kami
 Media Publikasi
 Tentang Kami
 Youth Hemophilia
 Buku Tamu
   
Index Artikel ..:
-
8 Februari 2010
Fatwa Hukum Sunat Bagi Penderita Penyakit Hemofilia

-
12 Maret 2009
Inhibitor Pada Penderita Hemofilia A Yang Mendapat Replacement Therapy

-
15 Juli 2008
Pedigree Analysis

   
 
Bergabung dengan
Miling List Hemofilia Indonesia
Powered by 
health.groups.yahoo.com
 
 
 
 
 
 
 
 
  Artikel :..
3620 hit(s)
Hemofilia dan AIDS
27 April 2003 - Oleh : Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban KHOM, dr. Nenden Rosdiana
 


Pendahuluan

Dewasa ini terjadi peningkatan pesat kasus infeksi HIV di Indonesia. Sejak kasus HIV ditemukan pertama kali tahun 1987 hingga bulan Juni 2000 jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 1.028 kasus, tetapi hanya dalam jangka waktu kurang dari 3 tahun sampai dengan Desember 2002 terapat 3.568 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan. Peningkatan ini terutama diakibatkan oleh meningkatnnya jumlah kasus infeksi HIV dari kalangan pecandu narkotika.
Sementara itu kasus infeksi HIV akibat transfusi sampai data terakhir tersebut adalah sebanyak 5 orang dimana 2 orang merupakan pasien hemofilia. Data dari Pusat Hemofilia di RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa dari 530 pasien yang terdaftar, 75,5 % positif terinfeksi Hepatitis C.


Infeksi HIV dan Transfusi Darah

Infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seksual, jarum suntik pada pemakai narkotika, penularan dari ibu ke bayinya termasuk transfusi darah. Maka pasien hemofilia mempunyai risiko tertular HIV oleh karena sering membutuhkan transfusi faktor pembekuan darah untuk mengatasi perdarahan yang terjadi. Risiko penularan seorang resipien yang mendapat darah yang positif HIV adalah sebesar 90 %.

Namun kini, Palang Merah Indonesia (PMI) telah melakukan uji saring terhadap HIV berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 622/Menkes/SK/VII/1992 tetang kewajiban pemeriksaan HIV pada darah yang disumbangkan donor. Prevalensi darah donor yang pada uji saring terbukti positif HIV pada periode tahun 1999 – 2000 adalah sebesar 0,007%. Darah yang reaktif pada uji saring kemudian dikirimkan ke RSCM untuk dilakukan tes konfirmasi dengan Western Blot.

Efektifitas uji saring ini sayangnya tidak 100%. Hal ini disebabkan karena pertama, uji saring yang dilakukan merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi HIV didalam darah. Padahal diketahui adanya masa jendela yaitu waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan, masa jendela ini lamanya 3 – 6 bulan. Jadi memang ada kemungkinan bahwa seseorang yang sedang dalam masa jendela mendonorkan darahnya. Kedua, walaupun metose uji saring yang ada sekarang telah mempunyai spesifitas dan sensitivitas yang sangat baik, hampir mencapai 100%, kemungkinan untuk terjadinya hasil negatif palsu tetap ada walaupun sangat kecil.
Saat ini di Amerika Serikat 1 dari 600.000 kantung darah telah terkontaminasi virus HIV yang tidak bias di deteksi oleh uji saring. Sebagai pembanding 1 dari 60.000 kantung darah terkontaminasi oleh virus hepatitis B yang tidak dideteksi melalui uji saring.

Dinegara-negara maju saat ini transfusi komponen darah dilakukan dengan menggunakan produk yang telah mengalami proses pemanasan (pasteurisasi) sehingga virus yang mungkin ada dapat diinaktivasi atau produk yang berasal dari kultur sel dengan teknologi DNA rekombinan. Di Amerika Serikat sampai dengan tahun 1984 dilaporkan 714 kasus penularan HIV melalui transfusi darah. Setelah uji saring dan metode pasteurisasi pada produk komponen darah dilakukan, hanya ada 3 kasus pada periode 1985 – 1990.

Transfusi komponen pembekuan darah yang diberikan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, umumnya adalah kriopresipitat, berasal dari pengolahan darah beberapa orang donor darah. Cara ini efisiensi dari segi biaya dan dianggap cukup aman dilakukan atas pertimbangan prevalensi HIV pada masyarakat umum masih rendah dan sudah dilakukannya uji saring HIV pada semua darah donor.


Diagnosis dan Penatalaksaan Infeksi HIV/AIDS

Untuk menatalaksana infeksi HIV/AIDS dengan baik diperlukan pemahaman mengenai perjalanan penyakit dan gambaran klinik pasien AIDS. Diagnosis AIDS yang lebih dini bermanfaat buat pasien AIDS, masyarakat dan juga buat dokter. Keuntungan diagnosis dini untuk pasien antara lain adalah dapat memperlambat masa tanpa gejala, memperlambat kecepatan perjalanan penyakit, dan mencegah timbulnya infeksi oportunistik. Sementara untuk masyarakat manfaatnya adalah menekan jumlah penularan. Selain itu tim dokter akan mempunyai cukup waktu untu mempengaruhi perjalanan penyakit dan memiliki kesempatan untuk memberikan konseling untuk mencegah penularan. Untuk dapat menegakkan diagnosis dini, dokter perlu mengetahui gambaran klinis AIDS yang amat bervariasi dan dipengaruhi oleh banyak factor, termasuk factor geografis. Pola penyakit infeksi oportunistik di Indonesia berbeda dengan pola di negara-negara barat.


Gejala

Dalam tubuh pasien AIDS/infeksi HIV, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50 % berkembang menjadi penderita AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.

Tabel 1. Daftar penyakit infeksi oportunistik untuk kriteria diagnosis AIDS
Infeksi Oportunistik
1. Pnemonia Pneumosistis Karini
2. Toksoplasmosis otak
3. Kriptosporidiosis dengan diare > 1 bulan
4. Kriptokokosis di luar paru
5. Penyakit virus sitomegalo pada organ tubuh, kecuali di limpa, hati atau kelenjar getah bening
6. Infeksi virus herpes simpleks di mukokutan lebih dari 1 bulan atau di alat dalam (visceral) lamanya tidak dibatasi
7. Leukoensefalopati multifokal progresif
8. Mikosis (infeksi jamur) apa saja (misalnya histoplamosis, kokkidioidomikosis) yang epidemik, menyerang banyak organ tubuh (disseminata)
9. Kandidiasis esophagus, trakea, bronkus atau paru
10. Mikobakteriosis atipik( mirip bakteri tbc), disseminata
11. Septikemiasalmonella non tifoid
12. Tuberkulosis di luar paru
13. Limfoma
14. Sarkoma kaposi
15. Ensefalopati HIV, sesuai criteria CDC, yaitu gangguan kognitif atau disfungsi motorik yang menggangu aktifitas sehari-hari, progresif sesudah beberapa minggu atau beberapa bulan, tanpa dapat ditemukan penyebabnya selain HIV


Gejala yang dialami pasien AIDS yang dirawat di Jakarta dan penyakit infeksi oportunistiknya dapat dilihat di table 2 dan table 3, berdasarkan hasil penelitian pasien AIDS yang dirawat di 6 rumah sakit di Jakarta.

Tabel 2. Kasus AIDS di Jakarta berdasarkan gejala
Manifestasi klinik
Jumlah
%
Panas lama
52
100
Batuk
47
90.3
Penurunan berat badan
42
80.7
Sariawan + nyeri telan
41
78.8
Diare
36
69.2
Sesak nafas
21
40.4
Pembesaran kel. getah bening
15
28.8
Penurunan kesadaran
9
17.3
Gangguan penglihatan
8
15.3
Neuropati HIV
2
3.8
Ensefalopati HIV
2
4.5


Infeksi oprtunistik yang sering dijumpai pada pasien AIDS di Jakarta, menurut urutannya adalah kandidiasis mulut dan esophagus (80,8%), tuberculosis (46,1%), infeksi virus sitomegalo, pneumonia rekurens, toksoplasmosis dan pneumonia Pneumosistis Karinii.

Tabel 3. Sebaran pasien AIDS menurut jenis infeksi oportunistik
Infeksi oportunistik
Jumlah
%
Kandidiasis mulut/esophagus
42
80.8
Tuberkulosis
24
46.1
-
paru
12
ekstra paru
2
paru + ekstra
10
Infeksi virus sitomegalo
15
28.8
Pneumonia rekurens
14
26.9
Ensefalitis Toksoplasma
9
17.3
Pneumonia Pneumosistis Karini
7
13.4
Virus herpes simpleks
5
9.6
Kriptosporidiosis
1
2
Histoplasmosis
1
2
Mikrobaterium avium kompleks
1
2


Kombinasi beberapa penyakit infeksi sering ditemukan, termasuk kombinasi dengan kanker Kaposi atau limfoma. Ditemukan 6 jenis penyakit sekaligus pada 3 pasien AIDS, 5 penyakit pada 2 pasien, 4 penyakit pada 7 pasien, 3 jenis penyakit pada 13 pasien dan 2 jenis penyaktit pada 16 pasien. Kanker Kaposi ditemukan pada 5 pasien AIDS, sedangkan limfoma malignum non-Hodgkin pada seorang pasien.


Pengobatan

Banyak sekali kemajuan yang telah dicapai di bidang pengobatan HIV/AIDS. Untuk diketahui, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) memerlukan berbagai jenis pengobatan, yaitu antara lain obat yang menghancurkan virusnya (obat antiretroviral), obat untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi yang menyertai penyakit AIDS, misalnya jamur, kanker, toksoplasma dan makanan yang mempunyai nilai giz yang baik. Selain nutrisi, odha juga memerlukan pengobatan pendukung lain seperti dukungan psikososial, dukungan agama dan juga tidur yang cukup dan perlu menjaga kebersihan.

Tabel 4. Pengobatan Antiretroviral
A. Obat Penghambat Reverse Transcriptase Nukleosida
- Zidovudine, AZT (Retrovir, Avirzid, Adovi, Zidovex)
- Didanasine, ddl (Videx)
- Zalcitabine, ddC (Hivid)
- Stavudine, d4T (Zerit)
- Lamivudine, 3TC (Lamivox)


B. Obat Penghambat Reverse Transcriptase Non-Nukleosida
- Nevirapine (Nevirex, Viramune)
- Efavirenz (Sustiva)


C. Obat Penghambat Protease
- Indinavir (Crixivan)
- Saquinavir (Invirase)
- Ritonavir (Norvir)
- Nelfinavir (Viracept, Nelvex)

Penggunaan kombinasi obat-obat antiretroviral telah memberikan hasil yang menggembirakan. Data selama 5 tahun terakhir menunjukkan bukti yang amat meyakinkan bahwa pengobatan dengan kombinasi beberapa obat anti HIV bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV, bahkan sebagian odha sudah tidak terdeteksi lagi virusnya di dalam darah Jenis obat antiretroviral dapat dilihat pada table 4.

Masalahnya, penggunaan obat anti retroviral ini dapat dikatakan harus dilakukan seumur hidup dan teratur. Oleh karena itu akses terhadap obat-obat antiretroviral ini harus mudah dan terjangkau harganya. Saat ini Pokdisus AIDS FKUI/RSCM telah berusa untuk mempermudah odha memperoleh obat antiretroviral dengan menyediakan obat antiretroviral generik yang diimpor dari India dengan harga yang sangat terjangkau.

Saat ini lebih dari 500 orang dengan HIV/AIDS (odha) di Indonesia yang mendapatkan pengobatan kombinasi obat antiretroviral generic. Dari jumlah tersebut lebih dari 150 odha yang viral load-nya tidak terdeteksi lagi. Artinya virus HIV dalam bentuk bebas tidak lagi ditemukan dalam sirkulasi darahnya walaupun virus HIV yang bergabung di dalam limfosit T-helper masih ada. Untuk diketahui HIV dalam bentuk bebas itulah yang menyebabkan berbagai macam infeksi oportunistik, seperti TBC, kanker, dsb. Kondisi kesehatan pasien yang mendapatkan ARV sangat baik, dapat beraktivitas dan bekerja secara normal.


Penutup

Pasien hemofilia mempunyai risiko untuk tertular oleh virus HIV melalui transfusi darah. Namun, saat ini risiko itu sangat minimal dikarenakan semakin majunya teknologi pengolahan darah dan telah dilakukannya uji saring pada semua darah donor.

Penatalaksanaan infeksi HIV/AIDS dewasa ini telah mencapai kemajuan yang menggembirakan. Pemberian kombinasi obat antiretroviral telah terbukti secara signifikan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas orang dengan HIV/AIDS.


 
   
 
 
   
 
© Copyright Indonesian Hemophilia Society - 2007   Created By Gugun