|
|
|
| |
| Artikel :.. |
1284 hit(s) |
| Sekolah, Saya dan Hemofilia Saya |
| 12 Februari 2007 - Oleh : Antonius Ari Sudana |
| |
Boleh percaya tapi jangan tidak, masalah besar yang dihadapi banyak penderita Hemofilia ketika bersekolah adalah masalah mata pelajaran olahraga, ketrampilan tangan terutama yang berhubungan dengan menggergaji dan memaku namun, yang paling besar dari seluruhnya adalah absensi. Tanyakanlah pada setiap penderita dan orangtuanya, mereka akan menyatakan bahwa terkadang masalah-masalah ini dapat menimbulkan konflik antara sekolah dengan mereka terutama bila menemui guru-guru yang keras kepala serta tidak mau mengerti. Hal ini pula yang membuat sebagian orang tua, harus berpikir ekstra keras saat hendak menyekolahkan anak yang menderita Hemoflia.
Hal yang sama juga pernah dialami oleh orang tua Saya sendiri. Mereka begitu khawatir akan keselamatan dan keberlanjutan studi anaknya sehingga keputusan untuk memasukkan sekolah didapat setelah menimbang banyak .hal yang pasti SANGAT MEMUSINGKAN! Dari mutu sekolah, karakter guru-guru dan teman-teman, lokasi sekolah, potensi tawuran sampai bentuk bangunan sekolah. Bagi mereka sekolah yang dekat letaknya dari rumah mungkin akan mempermudah pengontrolan keadaan anak tapi bila guru-gurunya masih berpendapat bahwa masalah absensi adalah hal mutlak yang harus dipatuhi, sekolah seperti ini pantas untuk dilewati.
Sementara bagi orangtua yang lain, karakter teman-teman yang masih suka bermain dapat menjadi ancaman serius. Mereka takut bila anaknya yang ringkih akan jatuh terdorong dan terluka ketika bermain. Tidak jarang mereka berpikir untuk menyekolahkan anak mereka di rumah dengan sistem Home schooling. Walaupun terdengar sedikit menggelikan, ada juga orangtua yang memusingkan masalah bentuk gedung sekolah. Walaupun kebanyakan sekolah yang memiliki bangunan bertingkat adalah sekolah yang cukup elit dan bermutu, orangtua akan enggan menyekolahkan anka mereka di tempat ini. Bagi mereka ini sama saja seperti melatih ikan mas untuk berenang di laut. Bisa-bisa anak mereka akan sakit setiap minggu karena harus bolak-balik naik turun tangga sekolah.
Akhirnya kedua orangtua saya pun menganggap bahwa kedinamisan dunia anak-anak tidak dapat dkekang namun perlu dikendalikan dan diawasi. Mereka berpikiran bahwa tidak mungkin dapat melarang seluruh anak-anak untuk tidak berkejar-kejaran, bermain bola dan kadang-kadang bercanda dengan sedikit melibatkan kontak fisik. Oleh karena itu mereka memilih untuk menyekolahkan Saya di sekolah yang dapat mereka kontrol, salah satunya adalah menyekolahkan saya di sekolah yang sama di tempat kakak-kakak Saya bersekolah. Dengan cara ini mereka dapat mengawasi seluruh kegiatan saya ketika masih berada di luar rumah melalui jasa kakak-kakak Saya yang mau berbaik hati untu menjadi satpam jadi-jadian.
Namun, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka kadang melupakan keadaan fisik diri mereka sendiri dan ikut bermain dengan anak-anak normal lainnya. Begitu juga dengan Saya. Bermain bola ternyata Saya rasakan lebih menyenangkan daripada duduk sendirian di pinggir lapangan. Siapa yang dapat menahan apabila kaki yang sudah sembuh dari sakit untuk bermain? Tentu saja kesenangan yang Saya dapatkan saat itu ternyata harus dibayar mahal karena keesokan harinya Saya harus kembali terbaring di tempat tidur sambil menahan sakit.
Tentu dari pengalaman yang Saya alami, kita semua bisa mengerti bahwa pengawasan oleh orang tua amat dibutuhkan ketika penderita Hemofilia bersekolah. Dinamisnya dunia anak-anak dapat menjadi bumerang yang siap menyerang balik dan melukai penderita Hemofilia. Akan tetapi, haruskah orang tua terus menerus menjadi “tentara penjaga” yang selalu menunggui anak-anaknya? Di balik arti penting “pengawasan” sebenarnya tersembunyi tindakan yang jauh lebih bermakna bagi anak-anak. Malah, jika tindakan ini telah ditanamkan sejak dini mereka dapat selalu menjaga dirinya sendiri bahkan hingga mereka dewasa. Tindakan itu adalah “Penanaman Pemahaman”.
Penanaman pemahaman yang pernah Bapak dan Ibu saya lakukan bukanlah sekedar meberitahu pihak sekolah bahwa Saya memiliki sejumlah kekurangan, “ketika sakit harus segera begini atau jangan bermain ini dan itu.”
Pemahaman yang mereka tanamkan adalah pengertian bahwa Saya memiliki keterbatasan yang membuat diri Saya harus mampu mengontrol segala tindakan yang Saya lakukan. Kata-kata larangan jarang Saya dengar karena yang mereka katakan hanyalah “Kamu dapat melakukan suatu hal yang kamu inginkan, namun resiko yang timbul dapat berakibat buruk bagi masa depan kamu juga Bapak dan Ibu, daripada kamu mengorbankan masa depanmu, lebih baik kamu mengurungkan niatmu dan mencari kegiatan lain yang lebih mengasyikkan.” Dan melalui pemahaman itu Saya sudah diajarkan untuk menahan kesenangan demi sesuatu yang lebih berharga di masa depan, hidup dan cita-cita Saya di masa depan.
Namun, bukan hanya petuah bijak yang mereka siapkan ketika Saya mulai bersekolah. Pada saat sebelum masa penerimaan siswa, Bapak dan Ibu selalu meminta surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa saya menderita Hemofilia. Surat itu kemudian ditembuskan pada kepala sekolah, guru olahraga, guru kesenian dan keterampilan serta wali kelas. Saya ingat betul berkas-berkas yang disiapkan oleh mereka. Semuanya lengkap termasuk langkah-langkah pertama apabila saya mengalami kecelakaan atau terluka di sekolah dan nomor telepon yang harus dihubungi dalam keadaan darurat. Tindakan mereka melakukan hal ini bukan ditujukan agar Saya memperoleh perlakuan dan penjagaan khusus dari sekolah melainkan hanya untuk meminimalisir resiko bertambah parahnya keadaan apabila terjadi kecelakaan.
Namun pengertian pada pihak sekolah tetap harus kerap diberikan. Saya ingat betul pada hari saat saya terancam untuk tinggal kelas karena saya tidak memiliki nilai satu mata pelajaran. Hanya satu nilai yang tidak Saya miliki. SATU nilai saja, dan itu adalah nilai olahraga! Namun, wali kelas Saya beranggapan bahwa Saya tetap tidak layak untuk naik kelas (walaupun nilai-nilai pelajaran lain masih terhitung baik).
Hal ini menyebabkan Bapak saya dipanggil untuk ikut dalam rapat kenaikan kelas (dan saya rasa itulah saat pertama kali seorang wali murid ikut dalam rapat guru). Dari penuturan Bapak, Saya mendengar bahwa Bapak tidak akan banyak memprotes kebijakan guru apabila nilai olahraga saya diberikan nilai yang paling kecil, toh apabila saya dipaksakan ikut dalam ujian olahraga nilai yang akan didapat juga tidak jauh berbeda. Oleh karena itu Bapak meminta mereka untuk memberikan tugas pengganti yang sepadan bagi Saya sehingga Saya tetap tidak kehilangan nilai. Bagi Bapak saat itu berapapun nilai yang diberikan yang penting adalah Saya sudah mau berusaha. Penjelasan Bapak ini kemudian yang membuat Saya dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Rasa minder mungkin pernah tumbuh dalam diri setiap penderita Hemofilia. Hal yang sama juga saya rasakan, Saya selalu menutup mata ketika digendong Bapak pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian yang tersedia ujian susulannya. Rasanya malu mendengar beberapa anak meledek “Hee, sudah gede masih digendong.” Mendengar hal itu kadang Saya selalu berharap agar Saya dapat kembali pulang. Melihat kelakuan Saya, Bapak hanya tertawa dan meminta Saya untuk melihat mereka.
“Buka matamu, lihat mereka cuma ingin berteman tapi tidak tahu harus berbuat apa,” katanya waktu itu. Dan dalam kenyataan yang sebenarnya memang seperti itulah anak-anak. Mereka tidak berbuat jahat, mereka hanya heran melihat orang lain yang “berbeda” dengan dirinya. Bapak pun sering mengatakan saya untuk tidak malu mengenakan tongkat penopang apabila tidak ingin digendong. “Menggunakan tongkat kayu bukan dosa, tongkat penopang sama seperti kacamata yang dapat kita lepas kapan saja ketika kita sudah tidak memerlukannya. F.D.. Rosevelt bahkan mengenakan kursi roda ketika ia menjadi presiden Amerika Serikat.” Kira-kira sejak saat itulah saya mulai menerima keberadaan diri Saya sebagai penderita Hemofilia dan tidak lagi peduli kalimat-kalimat miring yang akan menghalangi langkah Saya untuk memiliki kehidupan yang baik.
Adanya surat keterangan dari dokter selain membantu untuk menerangkan segala hal mengenai Hemofilia pada guru-guru olahraga maupun kesenian ternyata juga menjadi alat yang ampuh untuk menerangkan bahawa Saya tidak dapat 100% hadir di sekolah. Keterangan yang ada dalam surat itu cukup jelas menerangkan bahwa saya membutuhkan penanganan dan perawatan yang berkelanjutan bahkan ketika saya sudah sembuh dari sakit. Hal itu juga yang membuat Saya lepas dari aturan absensi 80% yang berlaku di sekolah dan kuliah.
Adanya perbedaan perlakuan tidak jarang membuat banyak anak menjadi besar kepala dan ingin menang sendiri. Perasaan yang selalu merasa dilindungi oleh Bapak sempat membuat Saya menjadi orang yang bengal dan keras kepala saat SD. Tidak ada orang yang Saya takuti, siapapun akan saya lawan bahkan guru sendiri karena Saya tahu Bapak akan melindungi. Namun, alih-alih dibela, saat itu Bapak justeru kecewa dengan sikap yang Saya miliki. Menjadi “Anak emas” bukanlah alasan untuk mencari perkara dengan orang lain. Menghindari perkara yang ia maksudkan bukanlah diam dan menerima perlakuan seenaknya dari orang lain namun, Saya harus mampu mencari jalan yang lebih aman. Pendapat Bapak yang mengena itu akhirnya mengubah konfrontasi menjadi aksi “mengambil hati”. Untuk mengganti nilai Saya yang kosong karena tidak ikut berolahraga Saya pun mencari cara untuk mengganti kekosongan nilai tersebut.
Salah satu cara yang Saya gunakan untuk “mengambil hati” saat itu adalah dengan selalu hadir dalam kelas olahraga dan mengenakan seragam olahraga walaupun Saya hanya duduk di pinggir lapangan. Setiap ujian dan tugas teori akan Saya kerjakan dengan bersungguh-sungguh, tidak jarang Saya pun membantu Guru tersebut ketika membereskan peralatan olahraga. Hasilnya, saya berhasil melewati tahap-tahap sekolah walaupun dengan nilai olahraga yang tidak terlalu besar.
Strategi untuk mengambil hati yang hampir sama juga Saya terapkan pada pelajaran lain. Walaupun ketika sedang terbaring sakit di rumah, Saya akan tetap berusaha agar tidak tertinggal pelajaran. Walaupun sedikit, beristirahat di rumah sambil membaca pelajaran ternyata cukup membantu Saya untuk mengejar ketertinggalan di sekolah. Dan ketika Saya kembali masuk sekolah, tugas-tugas yang ada seperti pekerjaan rumah (PR) akan Saya kerjakan, walaupun sedikit konyol Saya juga mengerjakan PR-PR yang belum diberikan. Tindakan kecil ajaran Bapak saya inilah yang terus Saya lakukan sehingga lama-kelamaan guru-guru mulai memberi rasa simpati mereka lepada saya. Akhirnya masa-masa sekolah itupun dapat dilalui dan Saya pun dapat berkata “Thank God, it is over!”
Wah, rasanya sudah terlau banyak Saya berbicara di sini. Tidak perlu ada kesimpulan dari kisah ini karena semua yang Saya ceritakan di atas bukanlah kiat universal tetapi, yang jelas orang tua dan penderita harus mau menjalin hubungan baik dengan pihak sekolah. Sekolah bukan hambatan melainkan lapangan latihan dan bermain yang mengasyikkan bagi anak-anak untuk hidup mandiri.
|
|