Beranda
 Apa Itu Hemofilia ?
 Agenda Kegiatan
 Liputan Kegiatan
 Artikel
 Hubungi Kami
 Media Publikasi
 Tentang Kami
 Youth Hemophilia
 Buku Tamu
   
Index Artikel ..:
-
8 Februari 2010
Fatwa Hukum Sunat Bagi Penderita Penyakit Hemofilia

-
12 Maret 2009
Inhibitor Pada Penderita Hemofilia A Yang Mendapat Replacement Therapy

-
15 Juli 2008
Pedigree Analysis

   
 
Bergabung dengan
Miling List Hemofilia Indonesia
Powered by 
health.groups.yahoo.com
 
 
 
 
 
 
 
 
  Artikel :..
915 hit(s)
Katakan tidak...
26 Februari 2008 - Oleh : Dian Hamdani
 
Pukul 23.34 tepat,,,,,,. Seperti biasa aku baru pulang dari sebuah proses pengkhidmatan pada diri sendiri,,,ingin mandiri (niatku). Tapi entah mengapa saat itu segenap hati membimbingku untuk langsung ke tempat pembaringan. Memang tidak seperti hari-hari yang lain, kala itu tubuh ini dicoba lagi olah-Nya untuk meraih hikmah dari sebuah fase yang selama 25 tahun ini mengiringiku kemanapun diri ini pergi. Ya… selama 25 tahun tubuh ini selalu diberi rasa sakit yang teramat sangat bila fase itu datang menghampiriku.

Kadang kala disaat fase ini datang, diri ini merasa tak sesempurna orang lain, ada kekurangan yang selalu membatasi diriku untuk berbuat layaknya orang lain berbuat bahkan mungkin menghentikan seluruh aktivitasku. Tapi kadang kala pula fikiran itu selalu berujung disebuah kepasrahan untuk menerima semuanya. Bukankah Tuhan selalu memberi kemudahan dibalik kesusahan.
Namun entah mengapa saat itu kepasrahan itu seolah-olah hilang terhalang oleh rasa nyeri yang amat sangat,,,,berulang kali aku mencoba menahan semuanya. Namun, berulang kali pula semuanya berakhir sia-sia. Lelah hati ini menahan semuanya, rasa sakit yang berbalut kesal bermuara pada pengharapan untuk segera selesai dari semua penderitaan ini. Terbersit hati kenapa Dia memberi sebuah cobaan seperti ini kepadaku, tidak berwujud lain, yang ringan-ringan atau minimalnya yang tidak memberi rasa tersiksa seperti ini…..

“Yaa Rabbi….kenapa engkau bebankan kepadaku beban yang terus-menerus seperti ini”, pintaku. Tapi sejenak itu pula aku merasa inikah rasa sakit yang akan aku rasakan juga diakhirat nanti, tatkala siksa itu melebur semua dosa-dosaku. Atau memang rasa sakit ini merupakan pengganti semuanya diakhirat kelak, yang sengaja Engkau berikan kepadaku biar hari esok aku tingggal berharap mendapat semua ridha-Mu.

Terkadang fikiran-fikiran tentang kematian itu selalu datang menghampiri silih berganti, membuat diri ini merasa belum siap menghadapinya. Terlalu banyak kesalahan yang telah diperbuat, kata maaf yang belum terucap dari orang yang aku hianati, dan semua perbuatan yang disadari atau tidak bakal menjerumuskanku ke pintu siksa-Nya. Akankah aku siap mengahadapinya….?. bukankah mau tak mau ajal akan menjemputku setiap saatnya,,,apa yang akan aku lakukan dikala dia datang kepadaku.
Cukupkah bekal amal yang aku, siapkah,,,,belum siap rasanya hati ini mengatakan bahwa aku telah menyiapkan segala sesuatunya untuk hari esok kelak. Terlalu munafik hati ini bila bibirku sanggup mengatakan aku siap ya Tuhan untuk kau jemput kapan pun,,,,tidak ada dasar bila aku sanggup mengatakan semuanya.

Bukankah terlalu sombong diri ini bila dibandingkan semua keridhaan yang Engkau berikan kepadaku. Bukankah lebih banyak pemberian-Mu daripada ucapan syukur yang ku berikan atas semua yang Kau berikan. Cukup Tuhanku,,,,,,,,,,,aku tak sanggup lagi melanjutkanya, terlalu sedikit penyadaranku atas semua keistimewaan yang kau berikan padaku. Hina diri ini dibanding dengan kemuliaan yang Kau miliki selama ini….
Mungkin aku hanya bisa berharap, semoga semua cobaan ini bisa aku lalui sesuai dengan apa yang diharapakan oleh pemberinya dengan selalu berpijak di jalan-Nya,,,,,,

Subang, 22 – 23 Oktober 2007
My Homeland


NB :
Walaupun kesempurnaan tubuh ini tertahan oleh adanya kekurangan tubuh ini,,,,,tapi ternyata Allah telah menciptakan jiwa ini begitu sempurna. Kesempurnaan yang tidak begitu saja aku akan dapatkan, namun hanya akan didapat dari sebuah ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Bukan kebahagiaan yang diharap dari proses menghadapi cobaan ini, melainkan keberkahan dari apa yang kita lakukan dan berakhir pada sebuah pemahaman segala penderitaan yang dialami bukan menjauhkan diri dari kesempurnaan yang semu tapi semata-mata hanyalah sebuah jalan demi mendekatkan diri pada-Nya dan mendapatkan balasan cinta dari-Nya.
____________________________________________________________________________
(tambahan dari keluarga)

Hikmah pelajaran yang bisa diambil dari wafatnya Dian :

1. Usia / umur tidak ditentukan oleh penyakit, tua, muda, anak-anak. kematian pasti akan datang kepada siapa saja dan kapan saja.
2. Penyadaran kepada kita semua yang sehat agar meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Umur tidak ada yang tahu. Yang membuat pertanyaan, cukupkah amal yang akan kita bawa, jika kematian datang secara tiba-tiba menimpa kepada kita semua?.
3. mudah-mudahan wafatnya Dian membawa kebaikan kepada kita, semua dalam arti bahwa kita menjadi sadar akan sebenarnya siapa kita?


Dian Hamdani (27) wafat pada hari Selasa 5 Februari 2008 pukul 18:30 WIB, setelah dirawat di RSHS Bandung akibat perdarahan di kepala.

 
   
 
 
   
 
© Copyright Indonesian Hemophilia Society - 2007   Created By Gugun